72 TAHUN MERDEKA DALAM BELENGGU KETERTINGGALAN. ” Sepenggal Kisah dari Debululik “

Sebagai praktisi Media Desa Tulisan ini Saya tulis sebagai catatan perjalanan saya saat mengunjungi desa-desa yang tidak terjangkau akses transportasi, listrik serta telekomunikasi ( Blank Spot Area ). Dari obrolan ringan kami serta cerita dari warga saya kemudian berusaha untuk merangkainya dalam sebuah tulisan, sekaligus sebagai sebuah refleksi 72 Tahun Indonesia menurut persepsi warga batas. Mereka punya mimpi dan berharap mimpi mereka menjadi kenyataan dengan dipenuhinya kebutuhan mereka, dan juga sekedar informasi bagi pembaca sekalian bahwa di tengah belenggu ketertinggalan mereka masih tetap cinta Indonesia, mereka tetap kokoh berdiri di garis depan sebagai garda bangsa menjaga dan tetap menjaga keutuhan bangsa di garis Depan NKRI – RDTL.  Selamat membaca walau banyak minusnya dalam goresan saya ini.

“Ai pak Indonesia sudah 72 Tahun merdeka tapi kami disini tidak merdeka” ,ungkap seorang bapak. Dia mengeluhkan ketiadaan listrik di desa dan nihilnya sinyal telepon seluler. belum lagi kondisi jalan yang masih berupa tanah, bila hujan datang, sudah pasti tidak ada seorang pun yang mampu melewatinya. “kami ini paling tertinggal sudah” simpul mereka. “tapi mau bagaimana?, ini negara luas, pemerintah mau lihat mana, tinggal mana,” lanjutnya,berusaha bersabar dengan kondisi tersebut. Seorang warga Dusun Hanowai Desa Debululik Kec. Lamaknen Selatan dalam obrolan kami saat mengunjungi desa tersebut untuk melakukan survey pembangunan menara Base Transceiver Station ( BTS ) bersama dua orang sahabat baru saya Yaner dan Andy. Saat itu saya ditugaskan oleh Kepala Dinas Kominfo Kab. Belu untuk mendampingi tim survey Blank Spot Area di wilayah kecamatan Lamaknen dan Lamaknen Selatan.  Hari itu Selasa 8 Agustus 2017 setelah sehari sebelumnya kami mengunjungi desa tersebut untuk memantau signal telekomunikasi seluler, kami kembali bertandang ke Debululik untuk melanjutkan survey ke dua dusun yang direkomendasikan oleh camat Lamaknen Selatan Yustinus Loko Bau,SE dan kepala desa Debululik Bapak Oktovianus Mau yakni Hanowai dan Akaloan.

Sepintas lokasi ini kelihatan sangat dekat dari pusat desa Debululik di Loegolo namun untuk mencapai Dusun ini harus menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Mobil yang kami tumpangi hanya sampai di Kantor Kepala Desa sehingga kamipun menyewa Sepeda Motor untuk menuju Lokasi.Kerikil, Debu dan Turunan yang terjal menjadi track yang kami lalui, selesai berjuang melalui turunan saatnya menanjak bukit, Pengerjaan jalan yang belum selesai menghambat perjalanan kami sehingga beberapa kali sepeda motor harus kami dorong agar bisa sampai ke tujuan tanpa berjalan kaki. Dua Dusun ini memang sangat terisolir dari sisi akses jalan saat musim hujan tiba maka semua jalan terputus karena melalui beberapa Kali (sungai kecil ) yang belum ada jembatannya. Jaringan listrik juga belum masuk ke wilayan ini apalagi Jaringan Telpon Seluler, Dua dusun ini adalah yang paling terisolir tepatnya.

Jalan menuju Hanowai sementara dikerjakan

Sampai di lokasi kami mendapat sambutan yang sangat antusias dari warga setempat, nampak warga sangat kegirangan saat kami mengutarakan maksud kedatangan kami, kekuatiran kami pun terjawab, awalnya kami mengkhawatirkan tentang lokasi pembangunan BTS apa ada warga yang rela menyerahkan lahannya seluas 20x20m untuk dibangun menara BTS secara sukarela?. “Pak di saya punya tanah saja, pak di saya punya saja, pokoknya pak dong pilih saja mau di mana asalkan kami bisa dapat sinyal” warga sahut menyahut, nampak mereka sangat senang dengan akan dibangunnya menara penguat signal seluler. Selama ini untuk menelpon warga di lokasi ini harus menuju bukit dan tempat tertentu yang terdapat sinyal dan itu pun sangat jauh dari perkampungan. Setelah melakukan survey penentuan titik koordinat  GPS, kami menuju rumah kepala dusun Akaloan dan menikmati kopi hitam sambil mengobrol dengan beberapa warga dusun, topik yang hangat kami bicarakan yakni pertandingan sepak bola menjelang HUT RI di pusat kecamatan, dalam obrolan ringan diiringi candaan saya menanyakan kepada warga apa bapak mama tau Indonesia sudah berapa tahun merdeka? ” 72 Tahun eeee pak tapi kami disini tidak merdeka ” serentak bapak mama dan beberapa orang muda menjawab saya, waduh..! pikirku dalam hati apa saya salah bertanya ya? Belum sempat saya menimpali seorang ibu pun dengan nada sedikit bercanda ” kita ini kan NTT Nanti Tuhan Tolong,  Tapi ini pak dong Datang ini Mungkin Tuhan sudah Tolong kita, hehehe ujarnya disambut tawa kami. ”  Iya e mama Sabuk merah sudah lewat di Sini toh, sekarang kami sudah lihat ini dengan orang dari Jakarta kita sama – sama berdoa supaya Nanti Tuhan Tolong kita pemerintah pusat setuju bangun BTS di sini. Dari Dusun yang hanya berjarak satu Kilo meter dari Negara RDTL ini mayoritas warga merupakan petani pekebun yang menghidupi dirinya dengan bertani jagung, kacang tanah, bawang dan Ternak Sapi, kambing dan babi. Di lokasi ini juga terdapat Sebuah Kapela ( tempat ibadah Katolik) satu Sekolah SDN Hanowai dan SMP Satu Atap Hanowai, dan memang sangat membutuhkan Signal Seluler untuk berkomunikasi karena sejak Masuknya Telekomunikasi Seluler di Kabupaten Belu sejak  Tahun 2004 lalu lokasi ini belum terjangkau signal sama sekali.

Selesai dari Desa Debululik keesokan harinya kami mengunjungi Desa Fatulotu kecamatan Lasiolat. Di Desa ini bahkan di Kantor Camat Lasiolat dan di kantor Desa Fatulotu tidak terjangkau signal Seluler, Bersama Camat Lasiolat Stef Don Piera kami menuju kantor desa Fatulotu, sambil melakukan survey Handphone teman saya bang Andy Harahap Tim survey yang diutus dari Jakarta Berdering, tanpa menyadari kalau Lokasi ini adalah titik yang tidak ada signal Telkomsel teman saya pun menerima telpon, merasa ada yang aneh Bang Andy menutup telponnya dan mengecek pulsa, wah Habis pulsaku sembilan puluh ribu, roaming kali di sini ? Ujar pria asal Medan itu. Tepat sekali ternyata ada logo R di HP nya dengan nama operator yang muncul TLS-TT.

Cerita yang serupa kami dapatkan saat mengunjungi Kecamatan Raimanuk di Desa Renrua dan Desa Faturika, ditemani Sekcam Raimanuk Daniel Nahak,S.STP kami menyambangi TKP, berbagai kisah yang menarik kami dengar dari warga  di lokasi yang kami datangi, Di Desa Faturika menurut kepala desa kalau HP berdering di dalam kantor desa Maka ia harus berlari ke arah pohon beringin supaya bisa telponan,      ” disini kadang satu kotak kadang hilang, jadi kalau telpon kita di pohon beringin kecil ini, kalau tidak di sana halo kita juga halo pulsa Puluhan ribu kita hanya pake halo, halo saja “.Ujar Kades Faturika Bapak Benediktus Ulu.

Kunjungan kami pun mendapat sambutan bak gayung bersambut dari Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah desa serta warga, lahan sudah tersedia tinggal menunggu proses persetujuan di Level Pusat. Sebagai wilayah perbatasan Pemerintah Pusat makin gencar memberi perhatian dalam pembangunan wilayah di Beranda Negara, Setelah Sekian lama Terbelenggu ketertinggalan Sentuhan pembangunan mulai terasa lembut membelai warga perbatasan RI -RDTL ini. Jalan Sabuk Merah Perbatasan yang membelah Pulau Timor dari Ujung Utara Motaain sampai Ujung selatan Motamasin, Dari Sisi Infrastruktur Di Level Desa mulai dibangun dengan Dana Desa, Dari Segi Komunikasi dan Informasi Juga Terus dikebut dengan dibangunnya Menara BTS di Beberapa titik Blank Spot, Jaringan internet Desa melalui Program Desa Broadband Terpadu 7 titik di Kab. Belu, Semua itu diharapkan Menjadi pemutus Belenggu Ketertinggalan, agar di Tanah Timor Tanah Terjanji ini kami Tidak Hanya Terus Diberi Janji tapi Kami Bangkit dan Sejajar dengan daerah yang lebih maju. Dari Beranda terdepan Negara Ini Di pinggiran terdepan Negara Kami Bisa menatap Dunia Dengan Yakin

Karena Kami Perbatasan -Kami Belu- Kami Indonesia.

Dirgahayu 72 Tahun Indonesiaku –  Jayalah Negeriku.

Suri Lebo Eduardus – Prakarsa Desa

Facebook Comments

2 Comments

  1. Semoga dengan yang kita survey dapat di kabulkan supaya masyarakat mendapatkan informasi dari media sosial..@Suri Lebo Eduardus

Tinggalkan Balasan